dan membaca buku-buku karangan para sipir atau kepala penjara
(Bernard Shaw dalam Parents and Children)
Capek deh omongin mutu sekolah kita sekarang ini. Udah mahal, pelajarannya kadang bikin bosen dan yang nyebelin: ujianya nasionalnya itu benar-benar bikin perut mual. Coba mana ada sekolah sekarang yang murah. Semuanya pakai duit, duit, duit terus. Kalau baru masuk ada uang seragam, uang buku, uang infak, uang sumbangan, uang gedung (ini nggak pakai uang halaman segala) Nama-nama uang yang dibebankan pada setiap orang tua yang ingin anaknya cerdas. Semakin ghaib namanya (seperti uang infak, uang shodaqoh, uang gedung) semakin mahal biayanya. Tapi kita mau apa kalau sekolah emang semua ketentuannya begitu. Kayaknya hanya sedikit anak sekolah yang marah atas biaya yang dibebanin ama mereka. Seakan-akan sekolah bayar mahal memang udah takdirnya dari sono. Kita kayaknya mau terima beres saja soal biaya yang mahal dan kadangkala tak masuk akal itu!
Trus soal pelajaran memang luar biasa stress. Anak klas 1 SD aja sekarang mengunyah hampir 13 mata pelajaran (angka 13 angka sial, sesial nasib anak-anak SD). Jenis dan watak pelajarannya macam-macam. Ada yang nakutin segala (ini kalau bercerita tentang hari akherat) juga ada yang lucu sekaliii (ini pelajaran sejarah yang tanya kapan lahirnya seseorang….yang ndak ada banyak urusanya ama kita) dan ada pelajaran yang agak konyol (misalnya pelajaran tanya berapa pintu gedong istora senayan!) Semua pelajaran itu diakhiri dengan ujian nasional yang sekarang trus dinaikkan nilainya dan ditambah-tambah pelajaran yang diuji. Kalau pas masuk ujian maka siswa yang akan ikut disiapkan full. Terus-terusan diberi les tambahan (seolah-olah 2 tahun sebelumnya mereka nggak dikasih pelajaran sama sekali!) diberi gizi yang cukup (ada sekolah yang minta tambahan beli susu sama multi vitamin yang diminumkan tiap pagi menjelang belajar soal ujian) lalu diajari berdoa (macam-macam ibadah yang seakan-akan mau katakan bahwa hanya ridho Tuhan yang bisa menolong mereka) dan tak lupa mengajak bimbingan belajar (ini salah nama: harusnya bimbingan menjawab karena yang dilatih bagaimana menjawab bukan belajar)
Apa akibat sekolah kayak begini? Lihat saja fotomu 3×4 yang ada di kartu pelajar. Itulah foto yang tak pantas dibanggakan. Muram, tegang, penuh beban dan mahal senyum. Tak ada foto yang tertawa terbahak-bahak di kartu pelajar. Ini adalah timbunan stress yang bekerja puluhan tahun. Ini bentuk dari tekanan yang bekerja demikian panjang, lama dan menyusahkan. Kamu tiba-tiba jadi orang asing yang kadang dirimu sendiri tak kenal. Lihat saja bagaimana buku-buku sekolahmu yang tak lagi disimpan. Buku pelajaran bukan buku yang membanggakan untuk dipamerkan. Dibuang mungkin, diwariskan (ini jelas tak bisa) atau dilupakan. Ringkasnya kamu melihat sekolah bukan buah pengalaman manis tapi menengangkan. Sehingga kalau anak ditanya apa yang asyik dari sekolah, jawabanya selalu tiga hal: waktu pulang, pas istirahat dan kalau guru tidak masuk. Wajar kalau kamu bisa tertawa riang waktu momen pulang, bisa bercanda pas istirahat dan berkeliaran kalau guru tidak masuk. Sekolah memang tidak asyik tapi sebenarnya tidak harus menegangkan. Ada nggak sikh sekolah yang murah tapi senang?
Rumah Pengetahuan Amartya adalah sekolah yang didirikan untuk penuhi tujuan itu. Berdiri udah hampir setahun sekolah ini tegak dengan tanpa memungut sepeserpun uang dari murid. Trus dari mana uangnya? Ya dari sumbangan orang-orang yang jadi korban sekolah ndak mutu itu. Pokoknya menerima sumbangan dari mana saja asal bukan dari, pemerintah (ini dihindari banget karena takut kecampur uang korupsi), partai politik (wadukh ini uangnya pasti ndak jelas dapet dari mana), perusahaan (apalagi kalau dari PT Lapindo bener-bener ditolak bahkan dianjurkan untuk diberikan pada korban aja) Nakh dengan tidak mendapat dana dari ketiga lingkungan itulah maka Sekolah Gratis ini berjalan nekad, bulat dan mungkin juga agak ngos-ngosan (capek banget gitu!) Lalu siapa muridnya? Sekolah ini untuk orang miskin, miskin sekali, miskin banget, bener-bener miskin! Untuk menyatakan miskin tak perlu sekolah ini mensyaratkan kartu miskin segala karena cukup dengan lihat penampilan ama model wajah kita tahu ini anak sebenarnya masuk kategori apa (dimiskinkan, dibuat miskin atau dipaksa miskin…..soalnya kami tak percaya kalau miskin itu nasib atau takdir)
Lalu gimana ya pelajaran di sekolah itu? Yang jelas prinsip belajarnya adalah: bertanya, membaca dan bergerak. Maka sekolah kita adain pelajaran seperti: menari, drama, bermain bola, belajar lingkungan sekitar, berbahasa yang indah dan puitis….tak lupa pergi ke tempat-tempat yang buat kamu penasaran! Karena sifatnya informal (artinya ndak pake seragam, tak ada absensi yang berat, tak boleh ada guru galak) maka diharapkan anak-anaknya bisa senang, antusias dan bergembira di sekolah ini. Tujuanya kalau gitu sekolah ini apa dong? Wakh pertama-tama yang perlu adalah anak percaya diri! Ada anak yang di sekolahnya udah 4 kali nggak naik (kamu bisa bayangin dekh 4 tahun tidak dinaikkan dan terus berada di kelas 4 SD) Suatu hari ia datang ke sekolah gratis dan ketika dibilang bahwa tidak ada kelas di sekolah ini maka dengan antusias ia ikut pelajaran. Kita katakan kalau sekolah ini menganggap semua anak pintar, bersinar dan menakjubkan. Anggapan positif tentang siswa membuat mereka jauh lebih percaya diri. Kami selalu melakukan ritual bahwa anak-anak diminta untuk bertanya, bertanya dan bertanya…..ntar pada hari kesekian kalinya, ada usaha untuk menjawab semuanya. Buat kami, bertanya adalah modal bagi kemajuan pengetahuan. Kalau anak udah berani bertanya maka sekolah ini menggenapkan tujuan melatih anak bersikap kritis.
Daya kritis inilah yang harusnya dimiliki oleh seorang siswa agar terlatih jiwa petualanganya. Kami tak mau anak hanya percaya, patuh dan diam ketika mendengar informasi atau melihat sesuatu. Mereka mustinya digugah rasa keingin-tahuanya dan berusaha mengungkapkan dalam bahasa mereka sendiri. Beberapa kali diselenggarakan acara ’membaca berita’ dan menghidupkan berita dalam adegan mereka. Berita di koran tidak saja dibaca tapi juga dihidupkan melalui bahasa gerak mereka. Agar apa? Biar kenyataan itu hidup tidak dalam deretan kalimat tapi juga kehidupan. Mereka bisa bayangin kalau ada berita anak kelaparan, anak tewas karena busung lapar, anak jadi korban keracunan bukan semata-mata sebuah informasi melainkan kenyataan hidup yang bisa disentuh dan mustinya harus diubah. Pendidikan kami menekankan bagaimana kita sebagai ummat manusia dapat turut terlibat dalam kepedihan yang dirasakan oleh mereka yang mungkin hanya kita kenal lewat koran. Jadi solidaritas adalah bagian kepercayaan sekolah ini.
Nakh tujuan lain sekolah ini kemudian adalah berlatih berorganisasi. Kami selalu menekankan semangat kolektivitas: semuanya dikerjakan bersama dan dibagi bersama. Itu yang membuat mereka harus belajar untuk berbagi tanggung jawab, berbagi peran dan mengerjakan sesuatu secara bersama. Kenapa harus dilatih itu? Ya karena kita tak mungkin hidup dengan cara buas; mementingkan diri sendiri, egois dan kurang peduli. Organisasi adalah cara untuk membuat seseorang memahami tanggung jawab kolektif. Wakh jangan kamu pikir ini organisasi kayak pramuka, marching band atau pencak silat. Mereka punya nama-nama keren untuk organisasinya: misalnya organisasi kak Che Guevara (ini menunjuk nama pejuang Kuba yang wajahnya ada dimana-mana) yang prinsipnya adalah selalu berkorban untuk sesama. Nakh kalau menyebut nama organisasi harus tahu apa maksudnya dan bagaimana mereka jalankan organisasi itu. Itu pula yang bikin sekolah ini tak mau ada ujian apalagi memperkenankan bimbingan belajar untuk datang. Buat kami ’kegembiraan, antusiasme, daya kritis dan kebersamaan’ lebih berharga ketimbang yang lain-lain. Begitulah sekolah itu yang sampai kini sialnya tak dapat ijin dari Pemerintah. Tapi kami tak peduli, sekolah ini tidak terlalu butuh ijin karena yang diutamakan di sekolah ini adalah ’kesediaan dan kerelaan’ anak-anak untuk berbagi kecerdasan secara bersama.
Yakh….begitulah cerita tentang sekolah gratis. Kamu bisa bikin sekolah beginian, modalnya hanya: nekad, nekad dan lebih nekad lagi. Buat kami untuk membikin anak pintar, cerdas dan bahagia tidak saja melalui pendisplinan melainkan juga melatih mereka belajar ’solidaritas, kebersamaan dengan semangat keingin-tahuan’. Karena rasa-rasanya setelah tamat sekolah yang tersisa kenangan bukan tentang berapa nilai ujian kita, berapa banyak soal yang mampu kita jawab atau berapa besar SPP yang udah kita bayar (sepertinya kamu lupa tentang itu semua); melainkan kenangan tentang siapa teman kita, bagaimana kita berteman dan apa yang membuat kita merasa terkesan dengan teman-teman itu. Inilah ujung yang mau diraih dari sekolah: bukan membuat anak pintar-sepintarnya, melainkan bagaimana membuat anak bahagia dan senang dengan apa yang mereka punya. Kebodohan, ketololan, kecerdasan bukan buah dari ’membaca apalagi mengerjakan soal’ tapi juga bagaimana mereka mengidentifikasi diri dan berusaha berbuat ’sebisa mungkin’ untuk perubahan. Itu lho mandat sekolah sesungguhnya, bagaimana membikin anak tahu dan bisa berbuat untuk ’perubahan’. Rasa-rasanya cita-cita itu yang kini ditanggalkan oleh sekolah kita…..termasuk sekolahmu! Gitu dulu dech critanya.[]