Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah


Gokil!

Kata yang pas untuk buku ini. Pasti belum pernah liat kan ada komik yang pelaku utamanya diri kita sendiri? Kecuali kalo komiknya yang buat kita sendiri, hehehe. Sebenernya nggak begitu juga sih. Lebih tepatnya, komik ini tuh kayak cermin. Ya cermin, cermin yang memantulkan apa yang terjadi di sekolah. Dari mulai tingkah guru-guru, komite sekolah, termasuk siswa-siswanya, ya kita-kita ini. Dan yang seru, semua ceritanya beneran dari realita yang mungkin sering juga kita lihat, dekat dengan keseharian kita. Bayangkan deh, dari playgroup sampai perguruan tinggi ada semua kisahnya.



Kalau baca judulnya, kita bisa tahu kalau buku ini mengangkat tema sekolah yang mahal. Pendidikan di sekolah yang katanya hak tiap warga negara (baca UUD 45 pasal 31 kalau nggak percaya!), saat ini masih jadi barang mewah untuk sebagian teman-teman kita. Jangankan teman-teman yang tinggal di bibir pantai pulau terpencil atau di dalam hutan rimba, bahkan mungkin tetangga di kanan-kiri rumah kita masih banyak yang nggak sekolah. Pernah memperhatikan nggak? Nah, buku ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap masalah ini. Yang asyik, cerita-cerita ini dibuat dalam bentuk komik, kita jadi nggak bosan membacanya.



Gambar-gambar karya Bang Terra Bajraghosa dan alur cerita dari Mas Eko Prasetyo bisa membuat kita nggak merasa berat baca buku ini. Malah kita bakal sering cekikikan bahkan ngakak sendiri. Alasannya, pertama gara-gara gambar Bang Terra yang lucu dan sederhana. Malah ada gambar yang sederhana banget, kalau nggak mau dibilang jelek, kayak nggak niat gambarnya (hehe maaf ya Bang). Tapi justru goresan-goresan yang jujur dan polos ini yang membuat kita jadi bisa masuk dengan mudah ke dalam cerita-cerita komik di buku ini. Gambar Bang Terra juga yang bikin komik ini beda dan orisinal dibanding komik-komik lainnya.



Alasan kedua, tentunya gara-gara cerita-cerita realita yang ditulis Mas Eko. Ceritanya mungkin kita tahu, bahkan mungkin pernah mengalami sendiri, tapi tetap saja kita dibuat ketawa. Contohnya, ada satu komik yang menggambarkan cerita tentang apa saja yang paling disukai sama pelajar di sekolah. Coba tebak apa saja? Kamu pasti tahu. Pertama, liburan. Kedua, waktu istirahat. Ketiga, waktu pulang. Keempat, kalo ada pelajaran kosong. Kelima, pulang pagi. Keenam, nggak ada lagi. Mana pelajarannya? Hahaha. Ironis ya? Tapi kenyataan. Kelucuan-kelucuan yang nyindir realita ini gaya khas Mas Eko yang memang orangnya kocak banget. Beliau biasa mengangkat masalah-masalah sosial yang dibungkus canda-canda segar. Kita dibuat ketawa sambil merasa miris berbarengan. Teman-teman yang biasa serius bisa jadi agak santai, yang biasanya terlalu santai dan nggak peduli jadi tertarik.



Selain biaya yang mahal, pernah nggak terpikir pertanyaan, apa sekolah masih menjalankan tugas pendidikan dengan baik? Kalau kita masih percaya sekolah masih dibutuhkan dan mampu benar-benar mendidik kita jadi manusia seutuhnya, berarti masalah kita cuma bagaimana caranya semua kawan-kawan kita bisa bersekolah. Tapi, Mas Eko dan Bang Terra nggak melihat cuma itu masalahnya.



Buku ini cerita juga tentang sekolah yang makin nggak meaning. Sebagian guru lupa tugasnya mendidik dan siswa-siswa nggak mau kalah, lupa juga dengan apa tujuannya datang ke sekolah. Kayak cerita di buku ini tentang tugas guru, yaitu mengabsen, menghukum, mengulang-ngulang pelajaran, nggak memberi kesempatan murid yang sok pinter, dan yang paling ganas, menilai dan memberi nilai. Benar nggak? Atau di cerita lain tentang masalah anak SMA zaman sekarang. Mas Eko dan Bang Terra cerita kalau masalah-masalah anak SMA zaman sekarang tuh berkisar soal putus cinta, jerawat, ingin ganti handphone atau motor, naksir kakak kelas, dibilang jelek, atau nggak punya duit untuk beli rokok. Masalah-masalahnya penting banget ya? Heuheuheu.



Jadi kamu setuju nggak kalau nggak ada masalah dengan sekolah?



Mungkin nggak sedikit temen-temen kita yang jawabannya, “Ah, peduli amat!” atau “Emang gue pikirin?”. Nggak apa-apa kok, selama masih ada kamu yang dengan lantang menjawab “Gue peduli! Dan gue nggak setuju!”, berarti kita masih punya kesempatan kawan! Selama masih ada kamu yang yakin ada masa depan yang lebih baik untuk kawan-kawan yang nggak beruntung dan Indonesia, kita akan selalu punya harapan. Siapa? Kamu.


Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung Semeru. Tapi kalau sepuluh pemuda bersemangat diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan
-Soekarno-

Oleh edun

Tambah Komentar

Alamat email anda tidak akan pernah disebarkan. Isian yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

*
*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>