Sebuah Pabrik Robot Bernama Sekolah

Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia
-Paulo Freire-

Ironis ya? Padahal sekolah zaman sekarang sudah jauh lebih lengkap, lebih canggih, pokoknya jauh lebih deh dibanding sekolah Taman Siswa Ki Hajar Dewantara. Tapi, kenapa sekolah sekarang kayaknya sudah jadi sesuatu yang malah enggak disukain sama siswa-siswanya sendiri? Di sekolah zaman sekarang sudah ada hotspot, international class, kelas akselerasi, KBK, KTSP, ekstrakurikuler, dll. Tapi, kenapa sekolah malah jadi penjara untuk siswa-siswanya? Sekolah zaman sekarang kurikulumnya lengkap, tapi kenapa lulusan-lulusannya enggak tahu kalo nyontek, tawuran, dan bolos itu salah? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Ah, banyak banget pertanyaan! Pusing! Kayak ujian aja! Eh kenapa juga ujian disebelin sekaligus ditakutin kayak monster?

Pertanyaan-pertanyaan tadi cuma segelintir pertanyaan dari banyak pertanyaan yang enggak bisa dijawab sekolah. Sekolah yang sering ngasih kita pertanyaan lewat ujian atau lembar kerja siswa ternyata enggak mampu menjawab masalahnya sendiri. Sekolah yang diharap bisa nyelesain masalah rakyat, ternyata banyak juga masalahnya.

Mungkin saat ini sekolah sudah kehilangan sesuatu yang penting. Sesuatu yang lebih penting dari sekedar gedung-gedung megah dan kemajuan fasilitas lainnya. Jadi inget lirik Big Yellow Taxi-nya Counting Crows feat Vanessa Carlton, “..you don’t know what you’ve got ‘till its gone”. Apa ya yang hilang?

Untuk tahu apa yang hilang, kita perlu tahu apa yang pernah ada. Pernah dengar sejarah sekolah? Dari buku “Sekolah Itu Candu” karya Roem Topatimasang, skhole, scola, scolae, atau schola adalah kata-kata dari bahasa Latin yang jadi asal-usul kata ‘sekolah’. Tahu enggak apa arti kata-kata itu sebenarnya? Coba tebak. Belajar? Bukan. Tempat belajar? Bukan juga. Penjara? Buset, seram amat. Bukan, penjara juga bukan. Kita mungkin agak shock kalau tahu ternyata secara harfiah arti kata asal-usul sekolah itu adalah ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Nah loh, bingung enggak? Kok bisa sekolah yang tiap hari harus kita tongkrongin dari jam 7 sampai jam 1 siang selama 12 tahun disebut ‘waktu luang’? Apa lagi mereka yang lanjut kuliah S1, S2, S3, sampai gelarnya lebih panjang dari nama. Sekolah menyita banyak waktu kita loh. Jadi, bagian mananya yang disebut ‘waktu senggang’? Apa salah orang Barat sana yang salah ambil kata-kata di atas tadi dan diserap jadi school dalam bahasa mereka? Atau salah kita yang juga memakai kata itu jadi ‘sekolah’ tanpa tahu makna sebenarnya?

Ternyata eh ternyata, enggak ada yang salah sebenarnya. Jadi, kalau mau lihat lagi ke masa lalu, Pak Roem dalam bukunya cerita kalau dulu orang-orang Yunani Kuno biasanya mengisi waktu luang mereka dengan mendatangi orang pintar. Eit, ‘orang pintar’ di sini bukan dukun atau tukang ramal, apalagi orang yang masuk angin terus minum obat tolak angin khusus orang pintar (apa sih?). Enggak, orang pintar di sini orang yang yang lebih tahu atau dipandang pandai di antara mereka. Dan yang pasti mereka kesana bukan untuk pasang susuk atau menyantet orang, mereka datang untuk bertanya dan mempelajari apa saja yang mereka rasa perlu dan butuh mereka tahu. Hmm.

Seiring berjalannya waktu, skhole mulai jadi kebiasaan anak-anak juga. Para orang tua mulai merasa sibuk dan menyerahkan anak-anak mereka ke orang-orang pandai tadi untuk mengisi waktu luang. Nah ini nih yang harus dicatat, di tempat itu anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu,dan belajar apa saja yang mereka anggap penting untuk dipelajari. Wow enggak tuh?

Mulai saat itulah mulai beralih deh sebagian fungsi pengasuhan orang tua ke lembaga pengasuhan yang biasa disebut ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu’ atau yang kita kenal dengan istilah alma mater. Zaman berlalu, makin banyak pula orang tua yang menyerahkan anak-anaknya ke lembaga pengasuhan. Dengan makin banyaknya anak yang harus diasuh, makin banyak pula pengasuh yang dibutuhkan. Pengasuh-pengasuh itu yang mungkin jadi cikal-bakal guru di sekolah sekarang. Mulai deh dibuat aturan dan pola yang lebih sistematis. Nah, orang yang mulai mengeluarkan ide ini secara tertulis namanya Johannes Amos Comenius. Pak Comenius menulis ide-idenya ini dalam buku Didactica Magna. Dalam bukunya, Beliau menggagas cikal bakal sekolah saat ini yang jadi suatu lembaga, lebih sistematis, dan bermetode.

Setelah Pak Comenius, Johann Heinrich Pestalozzi, melanjutkan perkembangan cikal-bakal sekolah dengan lebih detail. Pak Pestalozzi pada abad ke-18 mulai mengelompokkan anak-anak asuh secara berjenjang (yang sekarang jadi konsep ‘kelas’), pengaturan urutan kegiatan (yang sekarang jadi konsep ‘mata pelajaran’), dan bagaimana melalui tiap tahapan sesuai batasan yang khas dan baku (yang sekarang mungkin jadi konsep ‘ujian’). Konsep ini dikenal dengan ‘Sistem Klasikal Pestalozzi’. Konsep ini kita dapatkan di Indonesia dari warisan sekolah para meneer Belanda. Inilah awal dari sekolah modern yang kita rasakan sekarang. Bagaimana rasanya sekolah sekarang? Cokelat, stroberi, atau malah ingin lari? Hehehe.

Tenang, jangan kesal dulu sama Pak Comenius atau Pak Pestalozzi. Sekolah kan cuma alat. Mereka mungkin enggak salah, karena bisa jadi di zaman mereka, anak-anak belajar masih dengan semangat, penuh impian, dan enggak pernah merasa terpaksa. Bisa jadi mereka masih dengan sadar belajar karena mereka punya tujuan hidup, impian, dan cita-cita besar, bukan karena orang tua, bukan karena teman-teman, apalagi karena gengsi. Ya, cuma sebuah sistem yang pernah dibuat manusia untuk sebuah tujuan. Jadi?

Kita enggak akan kalah oleh Tonga, Singapura, Amerika, atau negara manapun! Ya, kita enggak akan pernah kalah kalau kita mau mulai nyadarin lagi apa sih impian kita, arah mana yang ingin kita tuju, memaknai lagi apa yang kita lakukan, termasuk kenapa dan untuk apa kita sekolah. Hehehe kedengarannya berat ya? Enggak kok, beneran deh. Karena yang selama ini hilang mungkin bukan sesuatu yang jauh, bukan teknologi, bukan uang, bukan kelengkapan sekolah. Bukan, sama sekali bukan. Apa yang hilang dari diri kita mungkin sesuatu yang dekat banget dengan kita. Sesuatu yang datangnya dari ketulusan hati dan kejernihan akal. Ya, sesuatu itu sesederhana mencari lagi arti hidup kita. Untuk apa kita makan, untuk apa kita berjalan, untuk apa kita sekolah, untuk apa kita ikut les, untuk apa kita hidup. Saat kesadaran ini kita peroleh, saat inilah kita menjadi manusia yang beda dengan hewan atau tumbuhan. Kita beda karena manusia menggunakan hati dan akalnya untuk bisa memilih. Manusia yang merdeka dalam berpikir, menemukan arti dan menentukan mimpi.

Ibu kita Kartini telah memberikan teladan yang luar biasa dalam menjadi manusia yang merdeka. Dalam suratnya pada Ny. Ovink Soer pada tahun 1900:
Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih.

Akhirnya semua pilihan ada di tangan kita. Mau tetap jadi robot yang melakukan semuanya karena terpaksa dan tanpa makna? Atau mau mulai menjadi manusia lagi yang penuh arti?

Whatever comes our way, whatever battle we have raging inside us
We always have a choice
It’s the choice that make us who we are
And we can always choose to do what’s right
-Peter Parker (Tobey Maguire) from Spiderman 3-

Oleh edun

Tambah Komentar

Alamat email anda tidak akan pernah disebarkan. Isian yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

*
*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>